Rahasia Paus Selamat dari Kepunahan


Kolaborasi antara peneliti dari University of California in Berkeley (UCB) dan Smithsonian Institution menemukan bahwa paus abu-abu berhasil melewati siklus pemanasan global dan pendinginan global di masa lampau karena mereka mengubah pola makan. Saat kehidupan mereka terancam, hewan ini menyantap makanan yang lebih bervariasi daripada biasanya. Ini membuat mereka mampu bertahan hidup dan terhindar dari kepunahan seperti banyak spesies hewan lain. Baca lebih lanjut

Iklan

Ikan Totol Bertaring Ditemukan di Halmahera


Ikan Totol Bertaring Ditemukan di Halmahera
Ikan punggung totol bertaring ditemukan di perairan Morotai Timur, Maluku Utara.

Dari sekian jenis ikan yang ditemukan di perairan Halmahera, Maluku Utara baru-baru ini, tiga di antaranya mungkin spesies baru. Dua spesies merupakan jenis ikan punggung totol dan Baca lebih lanjut

Wow, Ada Ubur-ubur Berwarna Pelangi


Wow, Ada Ubur-ubur Berwarna Pelangi
Ubur-ubur spesies baru yang ditemukan di perairan Tasmania, Australia unik dengan nyala pelangi di tubuhnya.

CANBERRA, Seekor ubur-ubur yang hidup di Baca lebih lanjut

Tertangkap, Ikan pari Air Tawar Terbesar


Tertangkap, Ikan Air Tawar Terbesar
(istimewa)

Jakarta – Sebagai bagian ekspedisi National Geographic ilmuwan mendapatkan ikan pari terbesar.Ikan itu ditandai dan dilepas kembali di Thailand pada 28 Januari lalu dalam ekspedisi untuk mencari dan melindungi ikan tawar terbesar.

Tertangkapnya ikan itu dibumbui dengan rumor Baca lebih lanjut

Ini Dia Paus Terkecil di Dunia


Ini Dia Paus Terkecil di Dunia
(istimewa)

Manila – Aktivis di Philipina menyelamatkan ikan paus paling kecil di dunia. Ikan paus sebesar lengan itu merupakan terkecil yang pernah diketahui oleh manusia.

World Wide Fund for Nature mengatakan, ikan itu diselamatkan oleh pejabat kelautan dan aktivis di Baca lebih lanjut

Belut listrik……


Belut listrik……
Beberapa ratus species ikan memiliki organ penghasil listrik, namun hanya sedikit yang dapat menghasilkan daya listrik yang kuat. Organ penghasil listrik yang dimiliki oleh kebanyakan ikan tersusun dari sel saraf dan sel otot yang telah mengalami perubahan penting. Bentuk organ listrik seperti piringan kecil yang memproduksi lendir disebut elektrosit, tersusun dan menyatu di bagian atas dari susunan lain yang sejajar. Pada umumnya, semua piringan menghadap arah yang sama yang memuat 150 atau 200 piringan setiap susunannya. Misalnya, pada ikan torpedo terdapat 140 sampai 1000 piringan listrik pada setiap kolom. Pada ikan torpedo yang sangat besar, jumlah seluruh piringan sampai setengah juta. Prinsip kerja piringan listrik ini mirip dengan cara kerja baterai. Ketika ikan beristirahat, otot-otot yang tidak berhubungan belum aktif. Namun jika menerima pesan dari saraf, akan segera bekerja secara serentak untuk mengeluarkan daya listrik. Pada saat itu, voltase semua piringan listrik atau elektrosit menyatu, sehingga mampu menghasilkan daya listrik sampai 220 volt pada ikan torpedo atau sampai 650 volt pada belut listrik.

Pada umumnya semua spesies ikan tawar hanya bersifat listrik ringan, kecuali sembilang listrik dan belut listrik. Ikan listrik yang hidup di laut memiliki tenaga listrik yang lebih kuat dan berbahaya, karena air laut mengandung garam membuat dirinya lebih tahan terhadap arus listrik. Posisi dan bentuk organ listrik ini bervariasi tergantung pada speciesnya.

Selain ikan yang dipersenjatai dengan muatan listrik potensial, ada jenis ikan lain pula yang menghasilkan sinyal bertegangan rendah dua hingga tiga volt. Jika ikan-ikan ini tidak menggunakan sinyal listrik lemah semacam ini untuk berburu atau mempertahankan diri, lalu digunakan untuk apa?

Ikan ini memanfaatkan sinyal lemah ini sebagai alat indera. Allah menciptakan sistem indera dalam tubuh ikan ini, yang menghantarkan dan menerima sinyal-sinyal tersebut.

Ikan ini menghasilkan pancaran listrik dalam suatu alat khusus di ekornya. Listrik ini dipancarkan melalui ribuan pori-pori di punggung makhluk ini dalam bentuk sinyal yang untuk sementara menciptakan medan listrik di sekitarnya. Benda apa pun dalam medan ini membiaskannya, sehingga ikan ini mengetahui ukuran, daya alir dan gerak dari benda tersebut. Pada tubuh ikan ini, ada pengindera listrik yang terus menentukan medan ini seperti halnya radar.

Pendeknya, ikan ini memiliki radar yang memancarkan sinyal listrik dan menerjemahkan perubahan pada medan yang disebabkan oleh benda yang menghambat sinyal-sinyal di sekitar tubuhnya. Ketika kerumitan radar yang digunakan oleh manusia kita renungkan, penciptaan mengagumkan dalam tubuh ikan akan menjadi jelas.

Bentuk tubuh belut listrik unik. Hampir 7/8 bagian tubuhnya berupa ekor. Di bagian ekor inilah terdapat baterai-baterai kecil berupa lempengan-lempengan kecil yang horizontal dan vertikal. Jumlahnya sangat banyak, lebih dari 5.000 buah. Tegangan listrik tiap baterai kecil ini tidak besar, tetapi kalau semua baterai dihubungkan secara berderet (seri), akan diperoleh tegangan listrik sekitar 600 volt (bandingkan dengan batu baterai yang hanya 1,5 volt).

Ujung ekor bertindak sebagai kutub positif baterai dan ujung kepala bertindak sebagai kutub negatif. Belut listrik dapat mengatur hubungan antara baterai kecil dalam tubuhnya itu untuk mendapat tegangan listrik kecil dan tegangan listrik besar.

Untuk navigasi, belut listrik hanya membutuhkan tegangan listrik yang kecil. Tetapi ketika ketemu musuh atau mangsanya, belut listrik akan memberikan tegangan semaksimal mungkin melalui kepala dan ekornya yang ditempelkan pada tubuh musuh atau mangsanya itu. Arus listrik sekitar 1 ampere yang ditimbulkan oleh tegangan listrik yang tinggi ini akan mengalir dan membunuh mereka. Hewan lain tidak terganggu karena mereka tidak bersentuhan langsung dengan ekor dan kepala belut.

fish_electricalfield.jpg (22 KB)

Arwana Simbol Prestise dan Pembawa Hoki


JAKARTA
– lkan arwana asal Indonesia – terutama hasil penangkaran – boleh
diperdagangkan atau diekspor. Hal ini telah mendapat persetujuan
Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).

Begitu terkena
tombak, anak-anak ikan dimuntahkan, dan nelayan sudah siap mengambilnya
dengan menebarkan jala atau memungutnya dengan serok. Setelah
mendapatkan anakan arwana, para nelayan mendarat, dan di situ pula
sudah ditunggu oleh para pengumpul/ pedagang setempat.

Diperkirakan
kuota ekspor arwana sampai tahun 2001, dapat mencapai kuota 10 ribu
ekor lebih. Ini berarti, pangsa pasar ekspor arwana sungguh
menggairahkan.
Apalagi harganya amat menawan. Seekor arwana ekspor jenis super red
dengan panjang tubuh 10-15 cm di Taiwan mencapai Rp 1 juta, malahan di
Jepang bisa meroket sampai Rp 2 juta. Di samping Taiwan dan Jepang,
negara tujuan ekspor lainnya adalah Hongkong, Korea, dan Singapura.
Sementara itu, harga anakan arwana kuning emas di Kalimantan Barat
sekitar Rp 100 ribu/ekor, sedangkan jenis merah mencapai Rp 250 ribu/
ekor. Tapi jangan kaget, harga itu merupakan transaksi antara nelayan
penangkap arwana di Sungai Nanga Jentawang dan Danau Piam (Kal-Bar)
dengan pengumpul setempat.

Dari tangan
pengumpul, arwana dimasukkan ke kantong plastik yang diisi air dan
oksigen, kemudian meluncur ke Sintang. Diteruskan ke Pontianak, entah
naik mobil atau entah naik pesawat udara. Lalu, dan Pontianak dijual ke
Surabaya, Jakarta, atau langsung menerobos Singapura.
Melihat harga arwana yang tidak murah itu, toh para penggemar tidak
ambil pusing. Buktinya, kalau kita mendatangi rumah sobat-sobat kita,
terpampang arwana dalam akuarium. Kadang ditaruh di ruang tamu, atau di
ruang keluarga, atau pun di taman sekitar rumah.
Bagi penggemar yang terlanjur demen dengan arwana, ia tak
tanggung-tanggung mengoleksinya. Ada arwana jenis red, golden red,
golden, silver, black, maupun green. Sebab dengan begitu, bisa
menaikkan status, gengsi, atau prestise pemiliknya. Malahan sebagian
penggemar beranggapan, ikan arwana ini mampu membawa hoki
(keberuntungan). Percaya atau tidak, terserah Anda!
Potensi Kalimantan Barat
Cerita soal arwana ini memang cukup unik. Orang-orang Dayak
menyebutnya: ”siluk”, ”peyang”, ”naga”, ”kayangan”, atau ”arowana”. Dan
cerita soal arwana tentu tak terlepaskan dengan kawasan Kalimantan
Barat. Mengapa demikian?
Pada tempo doeloe, ikan arwana masih menjadi ikan konsumsi. Di perairan
sungai Kapuas Kal-Bar, banyak sekali dijumpai arwana. Dan saking
banyaknya ikan-ikan arwana tergeletak di tepian sungai. Membusuk
sia-sia. Atau kadang diambil orang untuk dijadikan ikan asin. Tapi
selang waktu berikutnya, para penggemar ikan hias melirik keindahan
yang ditampilkan ikan arwana ini.
Semenjak itulah, arwana mulai ”naik daun” dan sungguh sayang kalau
sekadar digoreng dan dimakan. Arwana dipelihara dan mulai dipercaya
mampu membawa hoki.
Jika suatu saat Anda jalan-jalan sampai ke Kampung Nanga Ketungau,
dekat Sintang, Anda bisa tertegun melihat bagaimana nelayan pada
menangkap ikan arwana. Sungai Ketungau memiliki panjang 205 km, dan
airnya berwarna cokelat gelap kehitaman. Sedangkan pada tepian sungai
ditumbuhi beberapa pohon ”unik” seperti: engkana, putat, rasau, dan
entangis.
Pepohonan tersebut memiliki akar di dasar sungai dengan batang pohon di
dalam air, tapi daun-daunnya malah mencuat rimbun ke atas. Dan di
sanalah ikan-ikan arwana berada, berkembang biak, dan bersembunyi.
Lalu bagaimanakah menangkapnya? Pada malam hari di musim penghujan,
nelayan menggunakan etek-etek (sampan kecil) dilengkapi dengan jala,
tombak, serok (tangguk), serampang, lampu 12 volt, dan aki.
Kendaraan etek-etek dengan lampunya menyala sengaja meluncur menyusuri
tepian sungai. Mencari induk arwana. Yang semula sembunyi, lalu
terangsang ke luar melihat adanya lampu itu. Bahkan mencoba mendekati
lampu. Dan pada saat itu, tombak dijulurkan dan ditancapkan ke arah
arwana.
Nelayan sangat beruntung, jika induk arwana yang ditombak itu ternyata sedang ”menyimpan’” anak-anaknya di dalam mulut.
Begitu terkena tombak, anak-anak ikan dimuntahkan, dan nelayan sudah
siap mengambilnya dengan menebarkan jala atau memungutnya dengan serok.
Setelah mendapatkan anakan arwana, para nelayan mendarat, dan di situ
pula sudah ditunggu oleh para pengumpul/ pedagang setempat.
Sebelum dibawa ”ke luar”, mestinya perlu mendapatkan izin dan PHPA
(Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam). Toh masih seringkali
dijumpai adanya penyelundupan melalui Bandara Supadio, Pontianak.
Penyelundup sengaja mencampurkan anakan arwana dengan anakan ikan lain
yang tidak dilindungi (nila, tawes dan sebagainya). Atau ada pula yang
dimasukkan kantong plastik yang berisi oksigen, lalu diselipkan ke
dalam kopor bersama pakaian.
Sungguh prihatin aparat Kal-Bar semakin tertantang agar potensi yang
dahsyat ini bisa menjadi aset provinsi, terlebih di era otonomi daerah.
Bukan saja menjaga keamanan untuk mengerem terjadinya penyelundupan,
tetapi juga bagaimana teknik penangkaran ikan arwana semakin
disosialisasikan kepada masyarakat Dayak. Sebab secara ekonomis,
jelas-jelas menguntungkan!

–Manson Silalahi–