Anak suka ngompol..?,Tanda DIABETES…!


He..he..dia malu abis Ngompol....😀

Tak hanya orang tua, anak-anak pun bisa terkena diabetes, penyakit yang dijuluki silent killer ini. Penyebabnya beragam. Mulai obesitas, sampai faktor keturunan. Bagaimana mengatasinya?..🙂

Diabetes Mellitus (DM) adalah gangguan metabolisme karbohidrat karena jumlah insulin yang kurang, atau bisa juga karena kerja insulin yang tidak optimal. Insulin merupakan hormon yang dilepaskan oleh pankreas, yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang tepat. Insulin membuat gula berpindah ke dalam sel sehingga menghasilkan energi, atau disimpan sebagai cadangan energi.

Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum akan merangsang pankreas menghasilkan insulin, sehingga mencegah kenaikan kadar gula darah yang lebih lanjut dan menyebabkan kadar gula darah menurun secara perlahan. Pada saat melakukan aktivitas fisik, kadar gula darah juga bisa menurun karena otot menggunakan glukosa untuk energi.

“Pada DM, kerja insulin yang tidak optimal menyebabkan gangguan metabolisme karbohidrat. Akibatnya gula tidak bisa diubah menjadi glukogen. Gula juga akan melalui ginjal, sehingga urinenya mengandung glukose. Ini yang sering disebut orang sebagai kencing manis,” kata Dr. Endang Triningsih F., Sp.A dari Klinik Endokrinologi RSAB Harapan Kita Jakarta.

GEJALA 3 POLI
Ada 2 tipe DM, yaitu tipe I atau insulin dependent diabetic mellitus (IDDM) dan DM tipe II atau non-insulin dependent diabetic mellitus (NIDDM). Pada pasien DM tipe I, “Jumlah insulin yang diproduksi tubuhnya kurang, sehingga butuh bantuan insulin dari luar.

DM tipe I inilah yang biasanya terjadi pada anak-anak,” papar Endang. Sedangkan DM tipe II, yang biasa terjadi pada orang dewasa dan orang tua, tidak tergantung pada insulin.

Penyebab DM I sebagian besar genetik. Akan tetapi, teori baru menyebutkan adanya infeksi virus yang juga bisa memicu DM tipe I. “Yang sudah dibuktikan adalah infeksi virus Coxsackie tipe B-14. Virus ini merusak sel penghasil insulin di pankreas, sehingga insulin tidak dihasilkan dalam jumlah yang cukup,” kata Endang menerangkan.

Gejala yang muncul biasanya panas tinggi, muntah-muntah, diare, dan terkadang, karena elektrolitnya terganggu, anak kejang dan tidak sadar. “Diagnosanya biasanya infeksi otak (ensefalistis). Setelah dperiksa cairan otaknya, ternyata gula darahnya tinggi sekali. Gula darah yang terlalu tinggi itu membuat kejang di otak. Padahal, kedua orang tuanya tidak punya riwayat DM.”

Gejala awal DM biasa disebut dengan 3 P, yakni polifagi (banyak makan), polidipsi (banyak minum), dan poliuri (banyak kencing). Akan tetapi, yang seringkali terjadi, “Kalau anak banyak makan dan banyak minum, orang tua menganggap wajar. Sering kencing juga dianggap wajar, wong makan minumnya juga banyak.

Itu yang membuat orang tua dan dokter kecolongan. Baru setelah anak terkena infeksi, diabetesnya kelihatan.” Oleh karena itu, lanjut Endang, pasien yang datang dalam keadaan kejang dan kesadaran menurun, langsung dicek gula darahnya. “Pemeriksaan gula darah ini dijadikan pemeriksaan rutin supaya tidak kecolongan.”

BERAT BERLEBIH
Pada penderita DM tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat menjadi ketoasidosis diabetikum. Kurangnya insulin mengakibatkan sel-sel tubuh mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis).

Gejala lain yang harus diwaspadai orang tua adalah jika si kecil tiba-tiba ngompol. “Misalnya, sudah 3-4 tahun anak tidak ngompol, lalu mendadak, kok, ngompol lagi. Nah, itu harus dicurigai sebagai gejala diabetes,” jelas Endang.

DM tipe I bisa muncul sejak usia dini, bahkan bayi sekali pun. “Cuma, kalau masih kecil, meski kekurangan insulin, biasanya tidak banyak. Jadi, tidak terlalu tampak meski kadar gulanya naik. Baru setelah anak semakin besar, makin kelihatan karena kebutuhan insulinnya makin banyak.”

Selain diabetes tipe I, diabetes tipe II juga bisa menyerang anak-anak. Salah satu faktor risikonya adalah obesitas. “Anak-anak sekarang, kan, hobi makan junk food yang jumlah kalorinya sangat besar. Tanpa serat, isinya hanya protein, lemak, dan karbohidrat. Kalau dihitung, bisa ribuan kalori per porsi, padahal seharusnya porsi untuk sehari, sementara kalori yang dikeluarkan tidak sebanyak yang diasup,” ujar Endang.

Pada anak obesitas, kebutuhan insulin untuk metabolisme juga lebih banyak. “Kekurangan insulin makin lama akan makin menumpuk, meskipun kadang-kadang tidak bermanifestasi,” lanjut Endang.

Pada anak obesitas, biasanya dilakukan pemeriksaan kadar gula darah. “Apabila sangat meningkat, harus diwaspadai anak mudah menjadi diabetes, meskipun biasanya ada faktor genetik dulu,” kata Endang.

MSn 766hi***

Sumber Tabloid NOVA

%d blogger menyukai ini: