Menikahi Pria karena Uangnya, Kenapa Tidak?


Hugh Hefner, selalu mencari wanita-wanita muda, pirang, dan seksi.

Setelah Manohara, kini ramai kasus Cici Paramida. Cici pastilah makin menderita saat ini. Sudah terkena musibah akibat memergoki sang suami tengah berduaan dengan wanita lain, para penonton infotainment maupun pembaca berita gosip di internet ramai-ramai mencercanya. “Itu karma karena udah ambil suami orang!” demikian komentar salah seorang pembaca di kanal Entertainment . Yang lain mengatakan, “Itulah akibatnya jika menikahi pria hanya demi hartanya!” dan lain sebagainya.

Namun, bagi Daniela Drake, MD, produser berita yang pernah memenangkan Emmy Awards, apa salahnya jika perempuan menikahi pria karena uangnya?

Drake mengatakan, ketika ia mengamati tingkat perceraian yang semakin tinggi, ada banyak pertanyaan yang berkumpul dalam benaknya. Mengapa orang menikah? Sejak kecil, kita selalu dijejali persepsi bahwa cinta romantik adalah yang paling ideal, konsep tertinggi yang menjadi dasar pernikahan. Bahkan, ketika melakukan penelitian mengenai sejarah perkawinan, Drake menemukan bahwa konsep ini sudah ada sejak akhir tahun 1800-an. Namun pada jaman itu, sebagian orang telah mampu berpikir, “Jika orang menikah karena cinta, ketika mereka tidak lagi saling mencintai, mereka pasti akan meninggalkan satu sama lain.” Bahkan pada saat itu, orang telah memprediksi bahwa perceraian akan meningkat 50 persen.

Berdasarkan pemikiran itulah Drake meluncurkan buku Smart Girls Marry Money: How Women Have Been Duped Into the Romantic Dream – And How They’re Paying For It, yang ditulisnya bersama rekannya, Elizabeth Ford. Buku ini mengajak para wanita untuk bersikap cerdas dalam situasi individual kita.

“Ketika terjadi perceraian, wanita menjadi pihak yang lebih menderita secara finansial daripada pria. Sebab dulu mereka menjadi pihak yang mengalah, harus berhenti bekerja demi mengurus anak-anak,” jelas Drake.

Buku ini, menurutnya, bukan menyarankan agar perempuan bersikap matre. “Ini bukan bagaimana menikah demi uang. Buku ini tentang bagaimana wanita harus menjadi cerdas dalam menjalani hubungan sehingga rasa aman dan kebahagiaan Anda tidak terancam,” lanjutnya.

Kebudayaan kita, menurut Ford, mampu menerima kenyataan bahwa pria sering kali memilih wanita yang cantik, muda, dan seksi, menjadi istrinya. “Tetapi enggak ada tuh yang mengatakan bahwa pria itu beauty-digger karena selalu menginginkan wanita cantik?” kilahnya gemas.

Dalam seluruh aspek hidupnya, wanita perlu sadar secara finansial. “Wanita itu punya aset yang penting karena kita sama cerdasnya dengan pria. Kita juga mampu melakukan pekerjaan yang dilakukan pria. Namun, lingkungan pekerjaan sering kali tidak fair secara sistematis terhadap wanita,” kata Drake.

Di perusahaan, meskipun memiliki jabatan yang cukup tinggi, gaji wanita tidak akan setinggi pria. Hal ini disebabkan wanita sering kali harus bersikap fleksibel. Sewaktu-waktu harus bisa cuti mendadak jika anak sakit, atau harus mengambil rapor. Dan hal ini kerap kali menurunkan poin wanita sebagai karyawan di perusahaan tersebut. Bahkan demi anak, banyak wanita dengan suka rela meninggalkan kariernya. Sedangkan pria bisa berkonsentrasi penuh pada pekerjaan, yang akhirnya memberinya promosi atau kenaikan jabatan yang diinginkan.

Duet penulis yang mendapatkan ide untuk menulis buku karena sering bertemu di sekolah anak mereka ini menyimpulkan, wanita sebaiknya tidak berhenti bekerja demi memberikan rasa aman secara finansial pada dirinya. Dan jika sebelum menikah ia bisa menemukan pria yang akan memberikan rasa aman tersebut sepanjang hidupnya, mengapa tidak?

silalahi

%d blogger menyukai ini: