Tanggul Situ Gintung Paling Ekstrem


Situ Gintung, Tanggul Paling Ekstrem
Akibat tanggul Situ Gintung jebol, Jumat (27/3)


JAKARTA,  —
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah melakukan survei
terhadap waduk resapan di kawasan Jabotabek beberapa waktu lalu.

Dari
80 waduk atau situ yang disurvei, Kepala Badan Mitigasi Bencana BPPT
Sutopo Purwonugroho mengatakan, Situ Gintung merupakan tanggul yang
paling ekstrim jika dilihat dari potensi bencana. Alasannya, situ
tersebut berada lebih tinggi dibandingkan permukiman di sekitarnya.

“Dibandingkan
80 situ lain yang kami survei, Situ Gintung paling ekstrim. Artinya,
situ itu berada di atas dan di bawahnya permukiman,” ujar Sutopo seusai
mengisi diskusi mingguan di Gedung DPD, Jumat (3/4).

Berdasarkan
pengamatan BPPT, permukiman tersebut dibangun di badan tanggul dengan
beda ketinggian antara tinggi tanggul dan rumah di bawahnya mencapai
sekitar 15 meter. Padahal, aturan untuk daerah sepadan sungai, idealnya
berjarak 50 meter.

Situ Gintung awalnya merupakan sungai yang
kemudian dilakukan pembendungan sehingga ukurannya mengecil. Namun,
watak sungai, menurut Sutopo, tidak bisa dilawan dan suatu saat akan
kembali ke asalnya jika terjadi pemicu-pemicu lain.

“Untuk
tanggul, tidak ada di mana pun badan tanggul menjadi permukiman.
Tanggul, dari ujung suatu bukit, di kiri kanannya harus bebas dari
permukiman,” ujarnya.

Akan tetapi, BPPT selama ini memang belum
pernah melakukan analisis terhadap risiko-risiko situ di Jabotabek. Apa
yang dilakukan BPPT sebatas menganalisis potensi bencananya saja.
“Dengan visual, kami akan melihat bahwa situ yang lebih tinggi memiliki
risiko yang sangat besar,” kata Sutopo.

Oleh karena itu, ia
memberikan catatan, jebolnya tanggul tidak semata-mata karena dorongan
yang besar terhadap badan tanggul. Jebolnya Situ Gintung juga karena
faktor aspek tata ruang. Padatnya permukiman di sekitar situ memberikan
beban tersendiri.

Hal yang patut dipertanyakan, bagaimana
masyarakat bisa mendapatkan izin untuk memiliki lahan dan membangun
permukiman? “Bukan hanya memiliki, tapi juga bisa dibangun rumah dan
bahkan perguruan tinggi. Ini tentu kaitannya dengan tata ruang yang ada
belum memasukkan aspek-aspek analisis risiko,” kata dia.

BPPT merekomendasikan, ke depannya perlu dilakukan survei dan review terhadap
situ yang diduga memiliki potensi bencana. Selain itu, perlu disusun
analisis risiko dan melengkapinya dengan sistem peringatan dini di
situ-situ tersebut. Audit teknologi terhadap kekuatan struktur dan
kelayakan dari bendungan, tanggul, jembatan, dan infrastruktur keairan
juga harus dilakukan.

%d blogger menyukai ini: