Mengoptimalkan Kemampuan Pribadi Anak


Mengoptimalkan Kemampuan Pribadi Anak

Siapa bilang seorang anak tidak memiliki kepekaan bahasa? Justru proses belajar seorang anak terutama dalam hal pengkayaan kemampuan bahasanya dimulai sejak bayi dan terus berlangsung hingga seluruh hidupnya. Hal ini ditandai dengan rasa keiingin tahuan si kecil. Bila diibaratkan rasa keingin tahuan tersebut seperti spons kering di mana anak dapat meresap pengetahuan termasuk bahasa dalam jumlah yang banyak.

Clara Christine, Language Art Teacher&After School Teacher Cikal Pre K dan Primary School , Jakarta di acara sebuah seminar pendidikan anak beberapa waktu lalu menjelaskan untuk mengembangkan potensi anak yang luar biasa terutama dalam hal pengkayaan kemampuan bahasanya, melalui  pendekatan tepat yang dapat memfasilitasi anak dalam proses belajar.

Clara membagi pengetahuan dengan para orang tua yang memiliki anak kecil. Caranya ia melalui pengenalan pendekatan yang dialkukan dan dimulai oleh para orang tua di wilayah Reggio Emilia, Italy setelah Perang Dunia ke II. Clara menunjuk pendekatan ini sebagai sebuah pendekatan yang berorientasi pada anak (child oriented) di mana masa awal pertumbuhan (early childhood development) merupakan masa yang membentuk si anak sebagai individu kelat saat ia dewasa.

“Ada empat elemen penting dalam pendekatan Regio Emilia ini yaitu anak didik, orang tua, guru serta masyarakat dan lingkungan. Kesemuanya harus ada partisipasi yang menyeluruh dari setiap elemen untuk membangun proses belajar anak,” paparnya.

Diapun menerangkan soal pendekatan pembelajaran dimulai dari rasa ingin tahu si anak. Maksudnya si anak harus diberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman menyentuh, bergerak, mendengar, melihat dan mengecap. “Pendekatan itu semua dari panca indra yang memberikan kesempatan bagi si anak untuk lebih luas lagi menggali dunianya,” ujarnya. Si anak harus diberikan kesempatan yang tidak terbatas untuk mengekspresikan dirinya, sehingga ia tidak merasa seperti harus dipaksa mempelajari suatu bahan yang tidak diminatinya atau tidak dipaksa memenuhi standar-standar yang diharuskan.

Di sini papar Clara peran orang tua sebagai elemen vital menempatkan diri sebagai mitra. Gurupun harus menghormati orang tua anak sebagai guru pertamanya. Dan si guru harus punya kelapangan dada atau perasaan berbagi untuk melibatkan orang tua dalam setiap kurikulum. “Jadi peran partisipasi orang tua tidak sebatas hanya mengantar anak ke sekolah tapi juga memfasilitasi kebutuhan belajar dan bersinergi pada tugas pendidikan di sekolah.” Clara menambahkan bagi orang tua yang rajin menggunakan dokumentasi, jadikan alat ini sebagai sarana untuk membimbing anak untuk mengembangkan pengetahuannya termasuk soal bahasa.

Kemudian Clarapun memaparkan metode pendekatan lainnya penggunaan seni atau art sebagai media belajar. Pada metode inilah termasuk cara yang jitu untuk mengembangkan kemampuan dan pengkayaan bahasa. “Seni itu melatih kepekaan perasaan dan cara berpikir dan bahasa,” ujarnya.

Iklan
%d blogger menyukai ini: